Mengurangi angka pengangguran
Mengurangi angka pengangguran (Ilustrasi/pixabay)

Revolusi Mental Untuk Pengurangan Angka Pengangguran

126 views

Malu merupakan awal mula dari tidak ada kemauan. Itulah penyakit yang melanda pengangguran yang ada di tanah air. Komentar seperti, ah… masak sarjana S1 kerjaannya cuma di warung makan. Ah… masak sudah mahal- mahal kuliah S1 ujung-ujungnya jualan bakso. Ah masak sudah sarjana tapi kerjaannya bertani di sawah. Dan masih banyak lagi komentar –ah—yang berhasil menimbulkan rasa sakit hati, dan terinjaknya harga diri. Sehingga membuat para pemuda tersebut menjadi sangat pemilih dalam mencari pekerjaan, bahkan lebih memilih menganggur demi terjaganya gengsi.

Padahal, apa salahnya kerja di warung makan? Apa masalahnya menjadi penjual bakso? Tak ada dosakan untuk menjadi petani? Toh jika tak ada pekerja di warung makan, siapa yang akan melayani para tamu dan yang memasak makanannya?. Jika tak ada yang jualan bakso, pasti juga akan terjadi kelangkaan bakso di negeri ini 🙂 . Dan jika tak ada yang jadi petani, akan makan apa kita sehari- hari.

Mengurangi angka pengangguran
Mengurangi angka pengangguran (Ilustrasi/pixabay)

Jika demikian, lalu apa bedanya lulusan S1 dan yang lainnya? Perbedaan yang terpenting bukan apa pekerjaan yang dimiliki sebenarnya. Tapi lebih ke cara berpikir. Pola pikir seorang sarjana S1 seharusnya lebih maju dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang lain. Jika seorang lulusan SMA menjadi petani biasa di sawah. Maka seorang sarjana harus bisa menjadi petani yang luar biasa, itulah prinsip dasarnya.

Anggap saja seorang yang mengenyam pendidikan SMA, ia berpikir untuk mendapatkan uang. Maka seorang sarjana S1 harus dapat berpikir lebih dari itu. Meskipun sama- sama menjadi pegawai di sebuah warung makan, seorang sarjana harus bisa berpikir “ saat ini saya menjadi pegawai warung makan, maka saya harus bekerja baik- baik. Sambil mempelajari cara mengelola sebuah rumah makan. Sehingga suatu saat, saya bisa membuat dan mengelola rumah makan saya dengan baik”

Tak ada yang instan di dunia ini, semua harus dimulai dari nol. Dan usaha keenol untuk para pemuda khususnya para sarjana adalah revolusi pola pikir. Pola pikir pekerjaan itu tidak bergengsi dan memalukan harus diubah menjadi pengangguran itu sangat memalukan. Tentu saja mental untuk mendengar segala ah…, ih…, uh…, di sekitar kita juga perlu diperkuat.

Selain itu, pola pikir bekerja mencari uang bukanlah suatu hal final, tetapi bekerja merupakan proses belajar lain yang harus dijalani itu perlu diterapkan sekuat- kuatnya. Diibaratkan bersekolah, untuk mencapai jenjang S1, harus di mulai dari playgroup, dilanjutkan dengan TK, SD, dan jenjang yang selanjutnya. Begitupun dengan usaha dan bisnis, bisnis juga harus dimulai dari awal.

Pertama menjalaninya dengan pencarian pengetahuan tentang bisnis yang akan dijalankan, lalu memulainya dengan usaha kecil- kecilan. Setelah itu berkembang, berkembang, dan berkembang. Tentu saja segala sesuatunya perlu usaha dan ketekunan. Keras kepala dan tekat menjadi salah satu modal utama untuk pembelajaran yang akan dijalani. Bukannya belajar merupakan salah satu tujuan kita hidup di dunia ini? Kita harus banyak- banyak menimba ilmu dan belajar dari pengalaman dan kesalahan untuk menjadi lebih baik?. Jika seseorang dapat berpikiran demikian, maka tak akan lagi ada kata gengsi pada suatu pekerjaan. Melainkan gengsi karena tidak bekerja yang ada. Dengan demikian, angka pengangguranpun dapat ditekan.

Jadi siapkah kita mengubah pola pikir kita?

Itu sih…, tergantung pada diri masing- masing. Apakah mau mengubah, atau tetap kukuh untuk memilah- milih pekerjaan yang ada.

data-ad-format="link">

Artikel ini masuk dalam bahasan:

- mental pengangguran