Jutawan bermodal tikus
Jutawan bermodal tikus (Ilustrasi/pixabay)

Jutawan Bermodal Tikus

4,566 views

Banyak orang yang bergidik ngeri ketika berhadapan dengan hewan pengerat mungil yang satu ini. Ada perasaan jijik, geli bahkan takut. Tikus, hewan berpostur kecil dan berekor panjang bahkan dicap sebagai hama oleh para petani.

Namun tidak demikian bagi Bimard Arnata. Pemuda asal Surabaya ini justru menganggap tikus sebagaimana hewan peliharaan yang lucu. Dan siapa sangka, tikus-tikus itu pula yang kemudian menghasilkan pundi-pundi rupiah baginya.

Peternakan tikus milik Bimard sudah berjalan selama kurang lebih 2 tahun. Ada dua jenis tikus yang dikembangkannya, yaitu jenis Rat dan Mencit. Sama-sama berwarna putih, namun postur kedua tikus ini berbeda.

Rat sedikit lebih besar, ukurannya hampir menyerupai tikus sawah atau tikus got berwarna coklat dan kotor yang sering kita temui. Sedangkan Mencit berukuran mini dan hhmm.. memang lucu sih. Uniknya, kedua tikus ini adalah jenis tikus yang bersih dan higienis.

Jutawan bermodal tikus
Jutawan bermodal tikus (Ilustrasi/pixabay)

Awalnya, Bimard yang juga pecinta binatang ini memelihara tikus hanya untuk peliharaan semata. Sepasang tikus putih diletakkan di kamarnya dalam sebuah aquarium bekas. Hanya selang sebulan saja, tikus itupun berkembang biak.

“Tikusnya melahirkan 12 ekor anak sekaligus. Inilah yang membuat saya kemudian terpikir untuk mengembangbiakkannya,” terang Bimard.

Tanpa pikir panjang, Bimard lantas membeli lagi 5 pasang tikus putih dewasa. Tiap pasang tikus itu ditempatkan dalam box plastik berukuran 30×20 cm secara terpisah. Pada bagian atas dipasang kawat ram sebagai tutup kandang sekaligus sirkulasi udara.

Biaya Ternak Tikus Murah Meriah

Beternak tikus termasuk bisnis yang murah meriah. Tidak membutuhkan lahan yang besar dan pakannya pun mudah didapat. Biasanya peternak menggunakan box plastik sebagai kandang. Dalam kandang tersebut bisa memuat 2 ekor tikus jantan dan 8 ekor betina. “Satu pejantan bisa mengaw1ni 4-6 ekor betina dalam satu kandang,” ulasnya.

Ketika hamil, induk betina dipisahkan dalam kandang tersendiri. Siklus kehamilan tikus hanya selama 21 hari dan masa menyusui selama 20 hari. “Setelah itu, anak tikus bisa dipisahkan dari induknya dan digabung dengan anak-anak tikus dari induk lain dalam kandang pembesaran. Indukan siap dikaw1nkan lagi,” paparnya.

Untuk pakan bisa menggunakan pelet ayam, dedak atau bekatul. Tapi untuk indukan, sekali seminggu dikasih makan tauge untuk menjaga kesuburan. Sedangkan minuman bisa menggunakan air putih matang, diberi campuran probiotik untuk menjaga kesehatannya. Beberapa peternak juga mencampur air minum dengan perasan kunyit agar air kencing tidak terlalu pesing.

Pemberian minum dilakukan dengan cara meletakan botol minuman di atas penutup kandang yang terbuat dari kawat ram. Botol khusus bisa dibeli di toko-toko perlengkapan hewan, atau membuatnya sendiri dengan menggunakan botol minuman suplemen bekas, seperti M150 dan Kratingdaeng.

Bimard Arnata
Bimard Arnata (Foto: Facebook)

Panen Ribuan Tikus Dalam Sebulan

Ketelatenan dalam memelihara tikus, menjaga pakan serta kebersihan kandang tak pelak membuat tikus-tikusnya berkembang pesat. Hingga saat ini, Bimard sudah memiliki 80 box kandang yang berisi 15-20 ekor tikus. “Dalam sebulan bisa panen 1200-1500 ekor anakan tikus, istilah peternakannya pinkies,” ujar Bimard.

Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya untuk apa tikus itu dan dipasarkan ke mana saja. Memang, pangsa pasar ternak tikus tidak seluas dibanding kita beternak ayam, kambing atau sapi.

Menurut Bimard, pangsa pasar terbesar ternak tikus ada pada komunitas pecinta reptil. Tikus menjadi pakan yang sehat bagi ular, dan sejenis biawak lainnya. Selain itu, tikus putih juga sering digunakan sebagai uji coba laboratorium untuk bahan penelitian.

“Tapi kalau untuk kebutuhan labor tidak terlalu banyak. Hanya sesekali saja, harganya lebih mahal dan standar kesehatannya juga lebih tinggi dibanding tikus untuk pakan,” ujar Bimard.

Bicara soal harga, tak salah jika Bimard menjadikan tikus sebagai bisnis yang bisa diandalkan. Untuk tikus Mencit misalnya, harga anakan usia 10-20 hari mencapai Rp3.000/ekor, sedangkan Mencit remaja usia 21-70 hari seharga Rp4.000/ekor. Sementara sepasang Mencit dewasa dijual seharga Rp25 ribu/pasang.
Lain lagi dengan harga tikus Rat, sedikit lebih mahal. Anakan Rat dijual seharga Rp6.000/ekor, remaja 10.000/ekor dan dewasa Rp50.000/pasang. Bayangkan jika panen dalam sebulan mencapai 1200-1500 ekor, tentu penghasilan yang didapat mencapai Rp3,6 juta-Rp4,5 juta setiap bulannya.

Ada Hasil, Ada Risiko

Bagaimana? Menggiurkan bukan? Tertarik beternak tikus juga?? Eiitts, tunggu dulu. Apapun bisnisnya, selalu ada risiko yang akan dihadapi, begitu juga dengan beternak tikus. Bimard memaparkan sejumlah risiko yang rentan dihadapi peternak tikus.

Risiko Beternak Tikus

1. Kematian

Biasanya hal itu sering terjadi saat musim kemarau. Tikus sering tidak tahan dengan cuaca panas dan akhirnya berakibat fatal. Ketika musim kemarau terjadi, Bimard pernah kehilangan 40 ekor anak tikusnya sekaligus.

“Sebagai antisipasi, jika musim kemarau tiba, kandang saya semprot pakai air biar kandang lebih sejuk. Sedangkan tikus yang sudah mati juga masih bisa dijual dengan harga yang miring. Bisa juga disisati dengan memasukkannya dalam kemasan kedap udara dan disimpan di freezer supaya lebih awet. Tapi saya tidak menyarankan disimpan di kulkas rumah lho, bisa-bisa kena marah keluarga,” ujarnya sembari tertawa.

2. Polusi Udara

Risiko lain yang pernah dihadapinya adalah persoalan lingkungan. Bagaimanapun, beternak apapun jenisnya selalu menimbulkan polusi udara yang berasal dari kotoran hewan. Apalagi tikus yang terkenal dengan baunya yang pesing. Tentu bisnis ini tidak disarankan untuk kamu yang tinggal di daerah pemukiman yang padat.

Namun masih ada cara yang bisa digunakan untuk mengantisipasi bau pesing tikus. Misalnya dengan memberi alas kandang berupa zeolit aktif yang berupa kerikil-kerikil halus yang bisa menyerap cairan dan bau. Hasilnya kandang lebih kering dan bersih. Kelebihan lainnya adalah zeolit bisa dicuci dan dipakai lagi. “Tapi harganya lebih mahal,” kata Bimard

Sekam kering juga sering digunakan untuk menyerap air, namun tidak bisa menyerap bau. Harganya lebih murah, tapi sayangnya hanya untuk satu kali pemakaian. Jika menggunakan sekam kering, paling tidak setiap 10 hari, sekam harus dibuang dan diganti dengan yang baru.

Setelah mengetahui seluk-beluk ternak tikus putih plus risiko yang akan dihadapi, kamu tertarik untuk mencobanya? Selama tidak takut dan geli dengan hewan mungil ini, siapapun bisa melakoninya. Persaingan bisnis yang belum terlalu ketat memungkinkan kita meraup keuntungan dari bisnis tikus ini. Selamat beternak ya!!!


Artikel ini penulis buat berdasarkan wawancara langsung dengan pemiliknya di Surabaya melalui Facebook

data-ad-format="link">

Gallery for Jutawan Bermodal Tikus

Artikel ini masuk dalam bahasan:

- cara membuat kandang tikus putih - tikus putih - ternak tikus putih - cara ternak tikus putih - kandang tikus - kandang tikus putih - cara bikin pakan tikus agar tidak boros - cara beternak tikus putih yg benar - cara berternak tikus putih - budidaya tikus putih