Akuntansi yang jujur
Akuntansi yang jujur (Ilustrasi/pixabay)

Akuntansi yang jujur menyelamatkan perusahaan dari korupsi

213 views

Kegiatan atau transaksi sekecil apapun yang dapat dinilai dengan uang dan bernilai ekonomi dalam suatu organisasi seperti institusi, perusahaan, badan, lembaga, firma, perserikatan atau bentuk lainnya harus dilaporkan secara jujur. Pelaporan kegiatan ekonomi dalam organisasi disusun berdasarkan Ilmu Akuntansi yang sudah baku dan memiliki metode, aturan dan sistem yang berujung pada bentuk laporan yang bernilai dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi. Laporan tersebut dikenal sebagai laporan keuangan perusahaan.

Arti jujur jika disarikan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Wikipedia Bahasa Indonesia adalah lurus hati, terbuka dan tidak bohong, tidak curang dalam mengikuti aturan yang berlaku, tulus, ikhlas, dapat dipercaya, setia, adil dan semua yang mengacu pada karakter berkonotasi positif dan berbudi luhur.

Akuntansi yang jujur
Akuntansi yang jujur (Ilustrasi/pixabay)

Akuntansi yang jujur dapat disimpulkan sebagai pelaporan kegiatan atau transaksi keuangan yang mengikuti metode pencatatan sesuai aturan yang terbuka dan tidak menutupi ruh atau maksud yang terkandung dalam transaksi tersebut serta menggunakan bukti-bukti transaksi yang sah dan benar sehingga memunculkan lembar laporan keuangan yang dapat dipercaya dan dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan-keputusan yang tepat oleh pihak-pihak di dalamnya untuk kemajuan perusahaan.

Mengapa penulis mengemukakan akuntasi yang jujur ? apakah ada akuntansi yang curang ?

Selalu ada pilihan hitam putih, benar salah, jujur curang selama manusia masih hidup di dunia, kecuali kalau sudah di akhirat, tidak ada pilihan lagi.

Ambisi, nafsu serakah dan keinginan mengambil yang bukan haknya atau korupsi merupakan latar belakang timbulnya akuntansi yang curang. Jika pengertiannya diambil dari kebalikan akuntansi jujur, berarti semua tindakan yang menutupi ruh kebenaran setiap transaksi dengan cara bersekongkol menggunakan keahliannya meniadakan bukti-bukti transaksi yang sah dan benar sehingga timbul laporan yang tidak menggambarkan keadaan sebenarnya tapi terbaca benar oleh yang tidak memahami laporan tersebut. Dalam organisasi, persekongkolan bisa terjadi pada siapa saja termasuk antara pemilik perusahaan, internal akuntan dan pemilik perusahaan atau antara ketiganya dan pegawai pajak. Para praktisi akuntansi termasuk akuntan, auditor, controller dan pendidik akuntansi diyakini penulis sangat paham bahwa ada banyak kesempatan untuk berbuat kecurangan atau fraud dalam tahapan-tahapan akuntansi (penulis akan membahas bentuk-bentuk fraud dalam tahapan akuntansi berdasarkan pengalaman penulis pada artikel yang lain). Oleh sebab itu praktisi akuntansi harusnya bisa menjadi tulang punggung pencegahan korupsi dalam perusahaan karena mempunyai metode akuntansi yang jujur yang dapat menyelamatkan kekayaan perusahaan bukannya memanfaatkan keahliannya dengan menjalankan akuntansi yang curang untuk merampok kekayaan perusahaan sehingga menimbulkan kerugian bahkan kebangkrutan perusahaan.

Terakhir, pada setiap penulisan, penulis selalu mengajak pada siapapun untuk menambahkan yang baik dan menghilangkan yang tidak baik pada artikel penulis agar bisa memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

data-ad-format="link">

Artikel ini masuk dalam bahasan:

- akuntan yang jujur